Thursday, December 12, 2013

:::"BUNUH MUSLIM!! BUNUH MUSLIM!! BUNUH MUSLIM!!"::: AFRIKA TENGAH
























Masjid dibakar dan toko-toko Muslim dirusak gerombolan massa Kristen di Bangui, Afrika Tengah 

BANGUI – Ribuan Muslim terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka di Republik Afrika Tengah (CAR) untuk menyelematkan diri dari serangan gerombolan massa Kristen yang baru-baru ini terjadi.

Sebuah masjid yang terletak di ibukota Bangui telah dibakar setelah massa Kristen merampoknya.

“Mereka membakar sebagiannya, termasuk membakar rumah imam, dan mereka membongkarnya bata demi batanya,” kata Joanna Mariner dari Amnesti Internasional, dikutip Voice of America pada Selasa (10/12/2013) dan dilansir OnIslam.

“Mereka juga meneriakkan slogan-slogan anti-Muslim, membuat tanda [gambar] memotong tenggorokan seseorang dan menyeru agar presiden mundur,” tambahnya.

Kerusuhan terjadi setelah Presiden Michel Djotodia menyatakan dirinya sebagai pemimpin Muslim pertama di negara tersebut setelah digulingkannya Presiden Bozize pda 24 Maret lalu.

Menurut laporan yang beredar, massa Kristen tidak terima dengan kelompok Muslim yang menggulingkan pemerintahan. Akibatnya, gerombolan massa Kristen yang disebut “anti-balaka” melancarkan serangan terhadap umat Islam, membunuh sejumlah Muslim dan memaksa ribuan dari mereka melarikan diri dari desa-desa.

Dengan slogan yang diteriakkan “bunuh Muslim”, gerombolan itu menyerang properti milik umat Islam dan masjid-masjid, juga merusak toko-toko yang diyakini milik Muslim.

Berdasarkan laporan kantor kemanusiaan PBB, sekitar 400 orang telah meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka sejak Kamis lalu ketika gerombolan Kristen itu, yang loyal terhadap Francois Bozize yang digulingkan, melakukan serangkaian penyerangan terhadap Muslim.

Sementara itu, negara penjajah seperti Perancis dan sekutunya Uni Afrika berencana menambah beberapa ribu tentara untuk dikerahkan ke CAR untuk misi apa yang mereka sebut “menjaga perdamaian” dan mengklaim karena massa Kristen merasa “terancam” oleh kelompok Muslim yang sekarang mengontrol negara tersebut.

Sumber: Voice of America (VOA Amerika)

Thursday, November 28, 2013

10 Janji Allah Kepada Mereka Yang Ingin Berkahwin












Apabila seorang muslim baik lelaki atau wanita akan berkahwin, biasanya akan timbul pelbagai perasaan akan timbul. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya si pendamping. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.
Inilah khabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan berkahwin. Bergembiralah wahai saudaraku…
1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk lelaki yang keji, dan lelaki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),dan wanita-wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai dengan ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah lelaki yang soleh, jadilah wanita yang solehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.
2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)
Sebahagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang untuk berkahwin. Salah satu sebabnya adalah kerana belum mempunyai pekerjaan. Dan yang telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebahagian mereka tetap ragu nilai gajinya. Dalam fikiran mereka, “apakah gaji ini cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.
Ayat tersebut merupakan jawapan buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jinjang pernikahan kerana alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi keperluan keluarga.
Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, apabila tanggungjawab para pemuda bertambah – dengan kewajipan memberi nafkah kepada isteri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rezeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataannya di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak mempunyai apa-apa ketika berkahwin, kemudian Allah memberinya rezeki yang berlimpah dan mencukupkan keperluannya?
3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, iaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah kerana ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)
Bagi siapa sahaja yang berkahwin dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.
4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)
5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ “. (Al Mu’min : 60)
Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah nescaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, taat, dan sebagainya.
Dalam berdoa, perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlas, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan lain – lain.
Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, dan pada waktu antara azan dan iqamah,
Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari sumber yang haram, dan berpakaian dari usaha yang haram serta melakukan apa yang diharamkan Allah,
Manfaat lain dari berdoa bererti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahawa Allah itu tempat meminta, mengakui bahawa Allah Maha Kaya, dan mengakui bahawa Allah Maha Mendengar.
Sebahagian orangapabila jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadis-hadis berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu dia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima solatnya selama empat puluh malam”. (Hadis sahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).
Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Sahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).
Telah bersabda Nabi SAW, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan guna-guna itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadis sahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).
6. “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat“. (Al Baqarah : 153)
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan solat. Agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.
7. “Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahawa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.
8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)
Agar Allah menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dan sebagainya. Dengan itu semoga Allah menolong kita.
9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)
10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)
Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.
Jadi, kenapa ragu – ragu dengan janji Allah?

Tuesday, November 26, 2013

Cara Mencuci Kemaluan Dengan Betul


Sememangnya, kita mencuci dengan bersih tapi bersih bukan bermakna cara kita itu betul. Penting untuk kita pastikan diri kita bersih terutamanya di bahagian sulit. Selain untuk menjaga kesihatan ia juga penting untuk memastikan amal ibadat kita seharian di terima.

Kenapa penting untuk kita bersihkan kemaluan kita dengan betul?
Ramai orang merasakan diri mereka cukup bagus dengan banyak amal ibadah, bersedekah dan lain lain tetapi masih tidak terlepas dari azab api neraka.
Saidina Abu Bakar R.A. pernah hendak menyembahyang kan mayat seorang lelaki tetapi tiba-tiba tersentak dengan suatu benda bergerak-gerak dari dalam kain kafan lelaki itu. Lalu disuruhnya orang membukakannya. Alangkah terkejutnya apabila seekor ular sedang melilit kepala kemaluan mayat lelaki itu.

Saidina Abu Bakar R.A. mencabut pedang lalu menghampiri ular tadi untuk membunuh nya. Tetapi ular itu tiba tiba berkata-kata. Katanya, "Apakah salah ku kerana aku diutus oleh Allah untuk menjalankan tugas yang diperintahkan.” Diselidiki amalan lelaki itu semasa hayatnya, jelas dia merupakan orang yang mengambil ringan dalam hal menyucikan kemaluan nya setelah selesai membuang air kecil.

Jadi macam mana kita nak bersihkan diri dengan cara yang betul?
Lelaki dan wanita berbeza caranya. Bukan basuh sekadar dengan air dan asalkan bersih je.

Caranya -

Kaum lelaki:
♦ Selepas membuang air kecil, disunatkan berdehem dua atau tiga kali supaya air kencing betul betul sudah habis keluar.
♦ Lepas itu urutlah kemaluan dari pangkal ke hujung beberapa kali sehingga tiada lagi air kencing yang berada dalam saluran.
♦ Kemudian basuhlah dengan air sebersihnya.

Kaum wanita pula:
♦ Apabila membasuh kemaluannya, pastikan dicucikan bahagian dalam dengan menjolok sedikit dengan jari dan dipusing- pusingkan semasa dilalu kan air bersih. ♦ Bukan dengan hanya menyimbah kan air semata-mata. Jika dengan melalukan air sahaja ia tidak membersih kan bahagian dalam kemaluan wanita yang itu.

Betul atau tidak cara kita selama ini? Kalau yang tak betul tu jom sama sama
betulkan supaya diri kita bersih dengan cara yang betul.

Dijanjikan neraka untuk mereka yg tidak menyucikan diri dengan sempurna baik hadas kecil/hadas besar.

Rasulullah bersabda :
"Barang siapa yang menyampaikan satu (1) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala" moga semua memperolehnya. Amiin.

Wednesday, November 20, 2013

Khutbah Busuknya Seruan Perkauman (Membela Orang Kita Walaupun Salah)



Nasihat kepada pejuang yang berjuang di atas dasar bangsa, kaum dan kumpulan. Jauhkan dari sikap asabiyah dan perkauman yang disifatkan oleh Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang busuk... Berjuanglah di atas menegakkan Islam. 



Nur Salina Abdullah, 18, Mualaf Maut Didera



KUAH - Seorang remaja mualaf yang koma dipercayai akibat didera disahkan meninggal dunia di Hospital Langkawi, jam 8.40 malam semalam.

Mangsa, Nur Salina Abdullah, 18, sebelum ini dimasukkan ke Unit Rawatan Rapi (ICU) Hospital Langkawi pada Ahad lalu selepas tidak sedarkan diri.

Ketua Bahagian Siasatan Jenayah Langkawi, Asisten Superintendan Mohd Shamsul Nawi berkata, ketika mendapatkan rawatan, doktor menemui pelbagai kesan lebam di keseluruhan bahagian tubuh mangsa.

Menurutnya, pihak hospital kemudiannya membuat laporan polis kerana kesan kecederaan yang dialami dipercayai akibat penderaan.

"Bertindak atas laporan yang dibuat, polis menahan reman pasangan suami isteri yang juga keluarga angkat mangsa.

"Berdasarkan siasatan awal, keluarga ini dikatakan berpindah ke Langkawi sejak setahun lalu dan mengusahakan perniagaan makanan,” katanya kepada Sinar Harian.

Mohd Shamsul berkata, sehingga jam 10 malam tadi, bedah siasat masih lagi dijalankan oleh pihak hospital.

“Pemeriksaan memerlukan masa untuk melihat pelbagai aspek yang menyebabkan kematian mangsa.

“Setelah selesai bedah siasat, pihak kami akan menghubungi Pejabat Agama Islam Daerah Langkawi untuk urusan pengebumian mangsa, ini adalah atas permintaan ayahnya yang mahukan yang terbaik bagi anaknya,” katanya.

Menurutnya, suspek yang ditahan reman adalah majikan kepada mangsa iaitu sepasang suami isteri dan dua orang turut ditahan iaitu anak mereka yang berumur 16 dan 21 tahun untuk membantu siasatan.

“Kes disiasat di bawah Seksyen 302 Kanun Keseksaan,” katanya.

Sementara itu, bapa mangsa, Nai Koi See, 42, menyerah kepada pihak berkuasa untuk menguruskan jenazah anaknya.

Katanya, kali terakhir dia bertemu anaknya itu dua tahun lalu ketika selesai mengambil peperiksaan Penilaian Menengah Rendah (PMR).

"Anak saya yang nama asalnya Nai Ah Nung (Nur Salina) tinggal bersama ibu saya sejak berumur enam tahun sehinggalah dia mengikut jiran kami ke Pulau Pangkor, Perak.

"Saya ada cuba menghubungi dia awal tahun ini untuk bertanya khabar menerusi telefon tetapi tidak berjawab,” katanya.

Koi See berkata, dia dimaklumkan anak bongsu daripada dua beradik itu memeluk agama Islam Januari lalu selepas tinggal bersama keluarga angkatnya kira-kira dua tahun.

Menurutnya, dia sering teringat kepada anaknya itu namun tidak menganggapnya sesuatu yang pelik dan tidak menyangka ia adalah petanda bakal kehilangan anaknya.

"Saya menerima segala kejadian ini dan menyerahkan kepada pihak berwajib untuk menguruskan jenazahnya secara Islam,” katanya.

Katanya, keluarganya cukup mengenali pasangan yang menjadi keluarga angkat anaknya itu dan tidak menyangka hal ini akan terjadi.

Mualaf maut didera - Utara - Sinar Harian

Lahanat Basyar sanggup tembak kanak-kanak

Hanya yang buta hati dan berkepentingan politik saja masih menyanjung bashar assad dan mengatakan mereka ini bukan musuh Islam. 

Kanak-kanak ini melarikan diri dalam keadaan dihujani peluru-peluru syiah laknatullah. 


Wednesday, November 13, 2013

Tiga Perkara Dusta Di Benarkan

“Dengan Nama Allah s.w.t. Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani”































DARIPADA Ummi Kulsum binti ‘Uqbah bin Abu Mu’ait RA katanya: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda `bukanlah dianggap pendusta orang yang mendamaikan antara manusia untuk kebaikan atau mengatakan sesuatu yang baik’.” (riwayat Muttafaqun A’laih)
Terdapat tambahan dalam riwayat Muslim, Ummi Kulsum berkata: “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberi kelonggaran memperkatakan sesuatu yang dusta, dalam tiga keadaan, peperangan, mendamaikan antara manusia dan bicara suami kepada isterinya begitu juga bicara isteri kepada atau dengan suaminya, seperti katanya tidak ada orang yang lebih aku sayang daripadamu.”

* Islam tidak membenarkan umatnya berdusta kecuali perkara-perkara yang tertentu sahaja untuk maksud kebaikan.

* Antara perkara-perkara yang dibolehkan berdusta ialah untuk:

* Maslahah perang.

* Mendamaikan antara manusia yang bersengketa dengan menyampaikan kata yang baik daripada satu pihak yang lain walaupun sebenarnya kata-kata itu hanya direka.

* Menjaga hubungan antara suami dengan isteri.

* Petikan daripada koleksi Senarai Hadis dari Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

Saturday, November 09, 2013

Bagaimana Nak Hidup Jika Tidak Meminjam?

“Dengan Nama Allah s.w.t. Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani”



Habis tu macam mana nak beli rumah kereta? Duduk dalam hutan, duduk dalam gua?" Itu adalah respons biasa daripada manusia kebanyakan apabila diberitahu bahawa pinjaman sistem perbankan baik konvensional mahupun islamik adalah haram. Moga penjelasan dari Sheikh Imran ini mampu memberikan ketukan buat minda untuk berfikir.

Sunday, August 28, 2011

NAMA TENTERA BADAR AL-KUBRA

Pada ketika umat Islam menyambut Nuzul-al-Qur’an, sebagai meraikan tarikh turunnya Al-Qur’an kepada manusia (menurut pandangan sebahagian ulama’); mungkin ramai juga yang terlupa bahawa pada tarikh yang sama satu lagi peristiwa besar telah berlaku dalam sejarah Islam. Tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijrah, peristiwa yang dinukilkan dalam Al-Qur’an sebagai Yaumul-Furqan (Hari Pemisahan di Antara Hak dan Batil) telah berlaku; peristiwa penting yang menjadi penentu kepada tertegaknya atau jatuhnya Islam; peristiwa yang menentukan sama ada yang hak atau yang batil yang akan selamanya menang; itulah peristiwa yang kita kenali sebagai peperangan Badar Al-Kubra!
Peristiwa Badar Al-Kubra, yang merupakan peperangan pertama bagi umat Islam, adalah satu peristiwa yang cukup penting kerana peristiwa tersebut menjadi penentu sama ada yang hak akan berada di atas kebatilan atau yang batil akan berada di atas yang hak. Apatah lagi, tentera Islam yang seramai 313 orang itu semuanya merupakan ‘orang-orang kuat’ Islam yang seandainya terkorban, pasti perkembangan Islam itu sendiri akan mati. Malah, peristiwa ini juga boleh menjadi kayu ukur, adakah kekentalan iman Islam akan menang atau puak musyrik akan mudah meleburkan tentera Islam. Atas sebab itulah, Rasulullah s.a.w. berdoa kepada Allah S.W.T. sebelum bermulanya peperangan, yang menggambarkan betapa penting dan besarnya perang Badar Al-Kubra tersebut;
Baginda Rasulullah s.a.w. berdoa: “Wahai Allah, kalau (pasukan Muslimin) ini sampai binasa hari ini, Engkau tidak akan disembah lagi (oleh manusia). Wahai Allah, jika Engkau menghendaki, Engkau tidak disembah lagi selepas ini.”
Dalam peristiwa inilah kita menyaksikan bagaimana Allah S.W.T. membuktikan janji akan pertolongan-Nya kepada orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan-Nya. Dalam peristiwa ini jugalah kita menyaksikan bagaimana kesatuan dan kesepaduan umat Islam itu teruji dan terbukti. Strategi peperangan yang terhasil daripada musyawarah Rasulullah s.a.w. dan para sahabat menjadi hujah betapa pentingnya musyawarah dalam membuat keputusan penting dalam sesebuah organisasi atau jemaah. Malah, dalam peristiwa ini jugalah terbukti keimanan para sahabat yang telah menyatakan iltizam mereka untuk bersama-sama dengan Rasulullah, walaupun menyedari bahaya yang menanti di hadapan. Namun, dek kekentalan iman dan keyakinan yang menebal akan janji Allah S.W.T. dan Rasul-Nya, maka mereka terus mara di medan perjuangan.
Perhatikan ucapan Sa’ad ibn Muaz, mewakili golongan Ansar yang merupakan golongan terbanyak dalam barisan tentera Badar tersebut, yang menyatakan tekad mereka sekaligus menghilangkan kegusaran dan menghadirkan kegembiraan di hati Rasulullah s.a.w.: “Kami telah beriman kepadamu, dan kami bersaksi bahawa apa yang engkau bawa adalah benar. Atas dasar itu, kami telah menyatakan janji untuk sentiasa bersama, taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah! Laksanakanlah apa yang engkau kehendaki, kami tetap bersamamu. Demi Allah! Seandainya engkau menghadapi lautan dan engkau terjun ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersamamu juga. Tidak ada seorang pun di antara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika engkau menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepadamu apa yang sangat engkau inginkan daripada kami. Marilah kita berangkat dengan kemuliaan Ilahi.”
Akhirnya dengan bantuan tentera daripada para Malaikat yang diutuskan oleh Allah S.W.T., tentera Islam yang hanya seramai 313 orang itu berjaya menumpaskan tentera Musyrik yang diketuai oleh Abu Jahal. Oleh sebab besarnya peranan dan nilai kemenangan tentera Islam dalam peperangan Badar Al-Kubra ini, para tentera Badar adalah merupakan mereka yang dikurniakan kemuliaan.
Abu Hurairah r.a. menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah melihat orang yang menyertai Perang Badar, lalu Dia berfirman: ‘Lakukanlah apa sahaja yang kamu kehendaki kerana Aku telah mengampunkan dosa kamu!’”.
Imam Al-Bukhari r.a. juga turut menyebut mengenai kehadiran tentera malaikat dalam Peperangan Badar dengan memetik sebuah hadith, yang bermaksud: “Malaikat Jibril a.s. menemui Nabi Muhammad s.a.w. lalu bertanya, ‘Apakah jenis tentera yang menyertai kelompok tentera Badar ini?’ Baginda s.a.w. menjawab, ‘Daripada sebaik-baik kaum Muslimin, atau perkataan yang seumpamanya!’ Lalu Jibril a.s. berkata, ‘Begitu juga tentera Malaikat yang menyertai peperangan ini!’”.
Semoga Allah merahmati para ahli Badar. Berikut disenaraikan nama tentera-tentera Badar Al-Kubra, yang diketuai oleh pemimpin agung kita, Penghulu Para Nabi dan Rasul!

1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar al-Siddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Uthman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tolib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Allah Maha Besar!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...