Sunday, January 06, 2008

Dakwah Rasulullah S.A.W. Kepada Kaisar

Bazzar telah memberitakan dari Dihyah Al-Kalbi ra.
katanya: Aku telah diutus oleh Rasulullah SAW dengan
membawa sepucuk surat kepada Kaisar, Pembesar Romawi.
Bila aku tiba di negerinya, aku terus mendatanginya,
lalu aku serahkan surat itu kepadanya, sedang di
sampingnya keponakannya yang berkulit merah, dan
berambut lurus. Dia pun membaca surat itu yang
berbunyi (Nas surat menyurat itu tersebut di dalam
Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:83). "Dari Muhammad Utusan
Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi."

Mendengar bunyi surat itu, Pembesar Romawi mulai
marah, lalu menyanggah: "Surat ini tidak boleh dibaca
sekarang!" dia menyeringai. "Kenapa?" tanya Kaisar.
"Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau.
Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Rom, bukan
Maharaja Rom!". "Tidak", sambut Kaisar, "biar surat
ini dibaca untuk diketahui isinya". Surat Nabi SAW itu
terus dibacakan hingga selesai, dan setelah semua
pengiring-pengiring Kaisar keluar dari majlisnya, aku
pun dipanggil untuk masuk.

Bersamaan dengan itu dipanggilkan Uskup yang
mengetahui seluk-beluk agama mereka. Kaisar lalu
memberitahu Uskup itu, dan dibacakan sekali lagi surat
itu kepadanya. "Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu,
dan Nabi kita Isa sendiri telah memberitahukan kita
lama dulu!" jawab Uskup itu kepada Kaisar. "Apa
pendapatmu yang harus aku buat?" tanya Kaisar kepada
Uskup. "Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan
mempercayainya dan akan mengikut ajarannya", jawab
Uskup dengan jujur. "Tetapi aku jadi serba salah",
kata Kaisar, "Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah
kerajaanku!" .

Kami pun keluar meninggalkan tempat itu. Dan kebetulan
sekali, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada
di Rom. Abu Sufyan dipanggil oleh Kaisar ke istananya
dan ditanyakan tentang diri Muhammad SAW itu.

"Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku
Nabi di negerimu itu?" tanya Kaisar.

"Dia seorang anak muda", jawab Abu Sufyan.

"Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakat
kamu, dia mulia?".

"Tentang kedudukannya dan keturunannya, memang tiada
siapa yang melebihi kedudukan dan keturunannya! " jawab
Abu Sufyan jujur.

"Ini tentulah tanda-tandanya kenabian." Kaisar
berbisik-bisik kepada orang-orang yang di sampingnya.

"Bagaimana bicaranya, adakah dia selalu berkata
benar?"

"Benar", jawab Abu Sufyan. "Dia memang tidak pemah
berkata dusta".

"Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!" Kaisar terus
berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya
itu. "Baiklah", kata Kaisar lagi. "Orang yang
rnengikutnya dari rakyatmu itu, adakah dia
meninggalkan agamanya, lalu kembali semula kepadamu?"

"Tidak", jawab Abu Sufyan.

"Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!" kata Kaisar
pula. "Adakah terjadi peperangan di antara kamu
dengannya?"

"Ada!" jawab Abu Sufyan.

"Siapa yang selalu menang?"

"Kadang-kadang dia mengalahkan kita, dan kadang-kadang
kita mengalahkannya" , jelas Abu Sufyan.

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!" kata Kaisar
Romawi itu.

Berkata Dihyah Al-Kalbi ra. seterusnya: Maka aku pun
dipanggil oleh Kaisar Romawi itu, seraya dia berkata
kepadaku: "Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu,
bahwa aku tahu dia memang benar Nabi", dia menunjukkan
muka yang sungguh benar dalam kata-katanya. "Tetapi
apa daya", katanya lagi, "aku tak dapat buat apa-apa,
kerana aku tidak bersedia ditumbangkan dari
kerajaanku!" Kata Dihyah Al-Kalbi ra. yang menghayati
semua peristiwa ini.

Adapun sang Uskup itu pula, maka ramailah orang yang
datang ke gerejanya setiap hari Ahad. Dia terus
menemui mereka dan menyampaikan semua ajaran Nasrani
itu. Memang itulah kerjanya setiap hari Ahad. Tetapi
apabila tiba hari Ahad sesudah pertemuan itu, dia
terus berdiam di rumahnya, tiada mau keluar seperti
biasanya. Sesudah perkenalan hari pertama, memang aku
sering datang kepadanya untuk berbicara mengenai agama
Islam, dan dia terus-menerus menanyakanku tentang Nabi
SAW.

Ahad berikutnya, Uskup itu terus berdiam diri, dan
orang ramai merasa kecewa menunggu, namun dia tidak
datang juga. Maka datanglah orang ke rumahnya
menanyakan kabar, maka dia minta diuzurkan kerana
sakit. Hal serupa ini berlangsung sehingga
berkali-kali, sehingga orang mencurigainya. Mereka
lalu mengirim utusan kepada Uskup itu, memberikan
peringatan kepadanya, jika tidak mau datang juga ke
gereja untuk menyampaikan ajarannya, maka mereka akan
datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya,
kerana mereka telah menyangka, bahwa sejak datangnya
si orang Arab itu ke Rum, sikap Uskup telah banyak
berubah.

Uskup Romawi itu pun memanggilku datang ke rumahnya.
"Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu
itu", pesan Uskup itu dengan hati yang tidak tenang.
"Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa
aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan
bahawasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah. Katakan
juga, bahwa aku beriman dengannya, mempercayainya, dan
menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari
semua kata-kata dan nasihatku, kemudian engkau
ceritakanlah pula apa yang engkau saksikan itu", pesan
Uskup itu kepadaku. Apabila Uskup itu enggan datang ke
gereja lagi, mereka marah, lalu mereka membunuhnya.
(Al-Haitsami: Majma'uz-Zawa' id 8:236-237. Abu Nu'Alm
pula meriwayatkan cerita yang sama, tetapi ringkas,
dalam Dalaa'ilun-Nubuwah, hal. 121.)

Abdan memberitakan dari Ibnu Ishak yang menukil dari
beberapa orang yang mengetahui peristiwa ini, katanya
bahwa Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi ra.
"Celaka engkau, memang demi Allah, aku tahu bahwa
pembesarmu itu adalah Nabi yang diutus, dan dialah
orang yang kita tunggu selama ini, dan sifatnya
tersebut di dalam kitab kami. Akan tetapi, apa daya,
aku bimbang aku akan ditumbangkan dari kerajaanku.
Kalau tidak kerana itu, tentu aku akan mengikutnya.
Coba engkau pergi kepada Uskup kami dan jelaskan
tentang perkara pembesarmu itu, kerana Uskup itu lebih
dihormati orang dari hal agama dan bicaranya tentu
lebih diterima!".

Maka Dihyah pun mendapatkan Uskup itu dan menceritakan
berita yang dibawanya itu, maka setelah didengar semua
berita itu, Uskup itu berkata: "Pembesarmu itu, demi
Allah, adalah seorang Nabi yang diutus, kami
mengetahuinya dengan sifat-sifatnya dan namanya!"
Uskup itu lalu melepaskan pakaian gerejanya, dan
menukarnya dengan pakaian serba putih. Dia pun keluar
di khalayak ramai sambil mengisytiharkan penyaksiannya
menjadi Islam. Orang ramai pun mengerumuninya dan
membunuhnya. (Al-Ishabah 2:216)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...